Pengajaran Praktis
(Keluaran 23:6-9)
Pernahkah Anda mendengar keluhan sebagian orang mengenai perilaku orang Kristen? Pernahkan Anda mendengar harapan sebagian orang, bahwa orang Kristen harus memiliki perilaku yang baik? Pernahkah Anda melihat beberapa orang yang kecewa karena perilaku orang Kristen tidak berbeda dengan orang yang bukan Kristen?
Kita harus menyadari bahwa orang Kristen merupakan umat pilihan. Sebagai umat pilihan yang telah Tuhan tebus, kita diharapkan memiliki perilaku yang labih baik dari orang yang tidak mengenal kasih Tuhan.
Saat ini kita akan membahas bagaimana Tuhan mempersiapkan umat pilihanNya, yaitu bangsa Israel sebelum memasuki tanah perjanjian. Mari kita perhatikan Keluaran 23:6-9 yang berkata demikian, “Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya. Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah. Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar. Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.”
Kitab Keluaran 23:6-9 merupakan salah satu bagian kecil tentang bagaimana orang Israel akan bertindak dalam kehidupan bermasyarakat. Tuhan ingin mempersiapkan umatNya menjadi manusia yang memiliki perilaku yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Tuhan menghendaki, sebagai bangsa pilihan, orang Israel harus menunjukkan standar mutu perilaku yang lebih baik dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Melalui standar perilaku yang lebih baik ini, diharapkan bangsa-bangsa lain akan datang kepada Tuhan. Para teolog menyebutkan bahwa inilah perbedaan yang mendasar antara misi Perjanjian Lama dengan misi Perjanjian Baru, dimana misi dalam Perjanjian Lama dengan menggunakan metode centripetal , yaitu umat Israel akan berfungsi sebagai ‘magnet’ yang menarik orang luar ke dalam, sementara dalam misi dalam Perjanjian Baru dengan metode centrifugal , dimana umat pilihan harus bergerak keluar untuk menjangkau jiwa-jiwa.
Nats yang kita bahas ini memberikan pengajaran yang praktis kepada umat Israel dan juga kepada umat pilihan Tuhan, bagaimana hidup bermasyarakat, sehingga orang di sekitar kita mengenal bahwa kita adalah umat pilihan, melalui standar moral dan standar perilaku yang kita miliki.
Jika kita memperhatikan satu perikop Alkitab, maka pada umumnya Firman Tuhan berisi tiga kategori yaitu (1) Perintah untuk ditaati, (2) Larangan untuk dijauhi, (3) Janji yang harus dipercayai. Setiap umat pilihan tidak boleh mengabaikan salah satu dari ketiga kategori tersbut. Karena itu, untuk memudahkan pemahaman kita terhadap pembahasan nats ini, maka nats ini juga akan dibahas menurut ketiga kategori tersebut.
Perintah untuk ditaati
Dari nats tersebut, ada satu perintah Tuhan yang harus ditaati yaitu, “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta” (ayat 7). Perkara dusta yang dimaksud dalam nats ini adalah memberikan kesaksian yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Seringkali suatu perkara kecil menjadi besar, bukan dikarenakan perkara itu sendiri, tetapi lebih banyak disebabkan oleh opini-opini yang beredar dan berkembang, yang menyebabkan air yang ‘kurang bersih’ menjadi ‘keruh’. Nats ini mengajarkan kepada setiap orang, supaya berhati-hati dalam memberikan kesaksian, komentar maupun opini, karena jika tidak, persoalan yang “kabur” bisa semakin “tidak jelas”. Nats ini juga mengajar kita untuk tidak memberikan kesaksian ataupun komentar, jika kita tidak benar-benar memahami duduk persoalan. Di dalam membahas suatu persoalan, salah satu prinsip utama yang harus kita pegang adalah, lebih baik berdiam diri dengan berusaha memahami duduk persoalan dari pada memberikan komentar yang keliru, karena cenderung destruktif. Inilah perintah yang harus ditaati dalam nats ini. ....